Jumat, Agustus 14, 2015

My Way



Lagu My Way yang dipopulerkan Frank Sinatra, menurut saya, sejauh ini masih salah satu lagu dengan lirik paling wow. Dalem bingit dah. Tak heran, banyak tokoh menyukai lagu ciptaan sahabat Frank, penyanyi Kanada Paul Anka ini. Bagi saya, ini lagu tepat untuk seorang pria sejati. Menjalani hidup dengan kuat dan bertanggung jawab. Walau praktiknya sulit ya, hehehe.

Beberapa penyanyi sempat membawakan lagu epic ini. Elvis Presley, Robbie Williams, atau Sid Vicious Sex Pistols yang mengganti beberapa liriknya ala punk. Tapi, cara Frank Sinatra menyanyikannya tetap yang paling pas. Menurut saya pastinya. Hehe.

Ahmad Dhani saat menjadi juri Indonesian Idol dalam salah satu episode mengatakan, menyanyikan My Way harus lah dengan ekspresi sombong. Hmmm, ada benarnya. Ini memang lagu penuh percaya diri, kalau tak mau disebut sombong. Emosional, egois, angkuh, gengsi tinggi, sok gagah, sok hebat, dan sifat-sifat individual lainnya ada di lagu ini. Tak heran, konon lagu ini dilarang diputar di rumah-rumah karaoke di Filipina. Ceritanya, ada sebuah kejadian seorang pria ditembak mati saat menyanyikannya dengan karaoke. Wih, seyeemmmm..

Ada banyak penulis blog yang mencoba menerjemahkan lirik My Way ke dalam bahasa Indonesia. Ada yang menurut saya agak pas, ada yang menurut saya pas-pasan. Hehe. Memang kadang sulit mendapatkan padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk mengartikan lirik lagu ini secara tepat. Itu sebab, saya tak mau menerjemahkannya. Kata-kata dalam lagu itu, versi saya, memang hanya cocok dalam bahasa Inggris. Kalau pun “dipaksakan” di-translete, itu sifatnya sekadar mengartikan.

Ada banyak juga yang mencoba mendeskripsikan arti lagu ini. Saya mencoba menambahkannya. Tentu saja versi saya. Lagu ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang pria yang penuh lika-liku. Sebuah kisah panjang menjelang ajalnya. Dia bercerita memiliki hidup yang sempurna. Telah melalui segala pesta, cobaan dan rintangan. Cinta, tawa dan tangis telah dilalui. Tapi, dia juga mengakui telah membuat banyak kesalahan dalam hidupnya. Tapi, dengan angkuh tak mau memperlihatkan kelemahannya. Dia ingin orang tak mengetahui kekurangannya. Dia menghadapi semua luka dengan caranya sendiri. Jalan yang dia pilih sendiri. Sombong bukan? Hehehe.

Saya sepakat, ujung lirik My Way adalah klimaks lagu ini. Frank mengatakan: “Bagi seorang laki-laki, apa yang telah dia capai dalam hidupnya? Jika bukan karena dirinya sendiri, berarti dia bukan siapa-siapa.” Itu sebab saya sepakat, Paul Anka menyebut hanya Frank Sinatra yang pantas menyanyikan lagu ini. Di akhir lagu, Frank Sinatra berkata: ”Sejarah mencatat, aku telah melakukannya. Dan dengan cara ku sendiri.” Sombong, egois tapi bertanggung jawab. (*)


My Way
(Frank Sinatra)

And now, the end is near;
And so I face the final curtain.
My friend, I'll say it clear,
I'll state my case, of which I'm certain.

I've lived a life that's full.
I've traveled each and every highway;
And more, much more than this,
I did it my way.

Regrets, I've had a few;
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

I planned each charted course;
Each careful step along the byway,
And more, much more than this,
I did it my way.

Yes, there were times, I'm sure you knew
When I bit off more than I could chew.
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall;
And did it my way.

I've loved, I've laughed and cried.
I've had my fill; my share of losing.
And now, as tears subside,
I find it all so amusing.

To think I did all that;
And may I say - not in a shy way,
"Oh no, oh no not me,
I did it my way".

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught.
To say the things he truly feels;
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows -
And did it my way!


(west denpasar, august 14th 2015)


Selasa, Juli 22, 2014

22 Juli Siapa Pun Dia..

ALMARHUM WS Rendra tak suka mahasiswa-mahasiswa di Jogja mencontek habis gaya hidup ugal-ugalan si Binatang Jalang Chairil Anwar. Karena tak mungkin ada yang menyamai kejeniusannya.

Seperti halnya Dahlan Iskan melarang wartawan baru Jawa Pos meniru gaya Kompas. Karena tak mungkin semua koran menjadi Kompas.

Halnya Taufik Ismail mengatakan: "Tidaklah semua menjadi kapten. Tentu harus ada awak kapalnya. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Jadilah saja dirimu. Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri..."

Walaupun masih diperdebatkan sebagai contekan karya Douglas Maloch (Be The Best of Wathever You Are).

So, tak mungkin berharap Presiden baru Indonesia bisa seperti atau lebih baik dari para pendahulunya. Karena siapa pun dia, tak mungkin sempurna...


(muding, kerobokan, 22 Juli 2014)


Sabtu, Juli 19, 2014

breaking news dari donetsk..

SAYA baru pulang ngantor, Kamis malam (17/7). Setelah menghabiskan jagung bakar, yang saya beli di lapangan Puputan Badung, saya nonton tv.

Saat itu Tonight Show-nya Desta sama Vincent di NET.TV. Salah satu bintang tamunya Irgi Fahrezi. Temanya lumayan. Irgi yang akhir 90-an top sebagai Lupus di Indosiar, itu adalah Duta Museum Pemda DKI Jakarta.

Bla-bla saya larut dalam obrolan mereka seputar museum dan nasibnya kini. Saya jadi ingat, terakhir ke museum Januari lalu. Anter keluarga om istri saya dari Krian, Sidoarjo ke Museum di dalam Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Renon. Hehehe. Di Bali lebih dikenal dengan nama monumen Bajra Sandhi.

Usai talk show tengah malam itu, tiba-tiba ada breaking news di NET.TV. Pesawat Malaysia Airlines dengan kode penerbangan MH-17 rute Amsterdam-Kuala Lumpur kecelakaan wilayah di Donetsk, perbatasan Ukraina-Rusia. (Saat itu) Diduga 280 penumpang dan 15 krunya tewas!! Astagfirullah..Saya bengong sesaat.

Malaysia Airlines lagii?? Demikian status pertama saya di BBM. Tak semenit kemudian, saya baca di twitter juga lagi rame berita KMP Gelis Rauh, jurusan Padangbai-Lembar terbakar. Beruntung dan alhamdulillah,153 penumpang termasuk awak kapalnya selamat. Duka di 10 hari terakhir ramadan.

Ya, semua tahu, 8 Maret lalu Malaysia Airlines MH-370 rute Kuala Lumpur-Beijing juga mengalami nahas. Lenyap misterius dan tak diketahui rimbanya hingga kini (4 bulan kemudian). Saya bukan ahli penerbangan dan politik perang, jadi biarlah yang cakap soal itu membahasnya.

Saya ingat, jelang MH-37 hilang 8 Maret lalu, saya dan istri sedang bersiap liburan ke Singapura dan Batam. Liburan ke luar negeri pertama kami berdua. Kedua kali ke Singapura. Sebelumnya sendiri-sendiri. Istri tahun 2011, saya 2013 lalu.

Kami berangkat 11 Maret pagi dengan Air Asia. Akibat hilangnya MH-37 sangat terasa di imigrasi Changi (Singapura) dan Batam. Terutama saat kami pulang 13 Maret malam. Penjagaan di Changi berlapis. Bahkan tas kecil saya yang berisi peralatan mandi dan (maaf) underwear, dibuka dan diperiksa petugas cowok berwajah oriental. Hehe. Saya sampai minta maaf ke petugas itu. Dia bilang sambil senyum: "no problem".

Beberapa penumpang juga sama. Serombongan pria berkulit hitam di depan saya, diperiksa cukup lama. Ada satu orang membawa beberapa patung. Entah dibeli di mana. Sempat dongkol, karena pria Afrika itu lemot mengeluarkan barang-barangnya. Tapi, sudahlah. Saya ikuti saja prosedur rumit dan berliku ini hingga kami akhirnya berangkat pulang dengan selamat di Bali.

Saat di Batam saya ingat, suami teman istri saya (hehe, ribet ya), yang kami kunjungi adalah wartawan Kompas biro Kepulauan Riau (Kepri). Namanya mas Kris. Dia bilang, hilangnya MH-37 bisa jadi peringatan sekaligus kualat bagi Malaysia. Lho kok?

Ya, saya memang belum pernah ke Malaysia. Tapi, cerita soal buruknya keamanan Imigrasi Malaysia sudah bukan rahasia umum. Mas Kris memperkuat cerita itu. Bagaimana di Kuala Lumpur, para petugas imigrasi bisa disogok untuk keluar masuk negeri jiran itu. Termasuk wilayah-wilayah perbatasan Malaysia lainnya. Terutama yang berdekatan dengan Indonesia.

Fakta itu memang tak terbantahkan. Di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, sidang WNA Malaysia atau WNI yang tertangkap membawa narkoba sering digelar. Rata-rata mereka diamankan bea cukai atau imigrasi bandara Ngurah Rai Bali, setiba dari Kuala Lumpur! Menurut mas Kris, intinya, Malaysia terkesan galak di dalam negeri, tapi tak mau tahu ketika seseorang pergi dari wilayahnya. Cuci tangan, seperti itu lah. Maka, banyak yang tak kaget, ketiga ada kabar sejumlah penumpang MH-37 diduga menggunakan paspor/visa palsu.

Lalu kini, apes menimpa MH-17 yang akan menuju Kuala Lumpur dari Amsterdam, Belanda. Yang menyedihkan, dari 295 penumpang, ada 14 korban (ada dua keluarga tewas bersama) dari Indonesia. Dengan lima korban dari Bali (tiga di antaranya satu keluarga). Pesawat jenis boeing 777-200 yang terkenal aman itu, jatuh dan tinggal puing-puing di wilayah Donetsk, Ukraina.

Setahu saya Donetsk punya klub bola top Shaktar Donetsk yang sering tampil di liga champions. Rival berat Dynamo Kiev, jawara Liga Ukraina yang terkenal dengan eks bomber AC Milan Andriy Shevchenko. Kali ini (mungkin) Malaysia tak bersalah. Karena wilayah itu sedang konflik dan MH-17 diduga ditembak roket. Tapi entahlah.

Well, musibah bisa kapan dan di mana saja terjadi. Pertanyaannya, kenapa harus Malaysia Airlines (lagi)....?? Coba nanti saya tanya mas Kris. Siapa tahu dia punya ulasan lain..:D a

(Muding, Kerobokan, 19 Juli 2014)

Sabtu, Juli 12, 2014

Juni-Juli Istimewa


Juni-Juli 2014 ini istimewa. Ada piala dunia di Brasil, ada Pilpres di mari dan bulan suci Ramadan. Soal Pilpres biarlah yang expert mengulasnya. Lalu ada ribut-ribut (lagi) soal Gaza. Yang terakhir saya tak mau ikut komen. Problem pelik yang konon akan terjadi hingga kiamat.

Perasaan saya campur-campur. Sedih pasti, karena timnas Belanda harus tersingkir di tangan Argentina pada semifinal piala dunia. Oranje kalah adu penalti 2-4. Ada sedikit pelipur lara, karena yang mengalahkan Belanda adalah Argentina. Tango adalah favorit kedua saya setelah Belanda. Keduanya adalah kenangan masa kecil saya.

Suka Argentina karena kali pertama nonton piala dunia, mereka lah juaranya. Tepatnya pada 1986, saat saya kelas 1 madrasah ibtida'iyah (SD) di kampung Cupel. Saya coba mengingat, waktu itu finalnya pagi hari ditayangkan langsung TVRI. Argentina lawan Jerman Barat (sebelum bersatu pada 1991) di stadion Azteca, Mexico City. Saya nonton lewat tv hitam putih di rumah datuk (kakek).

Emosi saya, sebagai anak kecil, belum maniak. Tapi, waktu itu saya yakin Maradona dkk akan juara. Dan benar, Argentina menang 3-2 dan meraih trofi mirip paha ayam itu. Sejak itu saya suka Argentina dan menempatkan Jerman sebagai "musuh". Saya tak suka lihat Rudi Voeller (striker Jerman ) yang wajahnya bagi saya seperti penjahat di film-film action. Hehehe..dasar anak kecil.

Tapi, kecintaan saya kepada Argentina tak sebesar kepada Belanda. Saya kenal Ruud Gullit, Marco Van Basten, Frank Rijkard dkk saat Euro (Piala Eropa) 1988 di Jerman Barat. Sebagai anak kelas 4 SD, saya jatuh hati karena timnas Belanda berbaju oranye dengan desain sisik buaya. Warna yang ngejreng dan beda. Hehe.

Saya ingat, nonton final Euro  1988 via tv berwarna merek intel 14 inch yang baru dibeli bapak saya di rumah Cupel. Kick off-nya masih "sore", selepas isya' jam 20.00 wita. Pas, karena saya baru turun mengaji. Belanda lawan Uni Soviet di stadion Olimpiade, Munich (Munchen). Lagi-lagi saya bela Belanda karena selain faktor kostum oranye dan Gullit cs, juga karena saya benci Uni Soviet. Hehe (dasar anak kecil lagi).

Zaman itu masih era perang dingin. Uni Soviet berkostum putih-putih dengan tulisan di dada CCCP, singkatan dari Soyuz Sovetskikh Sotsialisticheskikh Respublik. Atau dalam bahasa Inggris biasa disingkat USSR (Union of Soviet Socialist Republics). Negara kesatuan politik sosialis yang terdiri dari beberapa republik dengan pusat negara di Moskow (Rusia).

Entahlah, mungkin efek film Rambo, saya anti Soviet :D. Well, bersyukur Belanda menang 2-0 dan merebut trofi Eropa pertama mereka. Saya pun tidur nyenyak, hingga bertahun-tahun kemudian Belanda tak lagi pernah juara (Eropa atau Dunia). Sejak piala dunia 1990 selalu jadi unggulan, Belanda selalu gagal. Hingga nyaris pada piala dunia 2010 lalu di Afrika Selatan. Kalah menyakitkan dari Spanyol, lewat gol Andre Iniesta di extra time.

Entah sampai kapan Belanda harus menunggu. Seperti saya masih menanti, kapan timnas Indonesia main di piala dunia. Saat saya tak lagi anak-anak, dan  ketika (mungkin), giliran saya membenci Belanda, Argentina dan semua lawan timnas tanah air saya.. :) -selamat menjalankan ibadah puasa. mohon maaf lahir batin-        

(muding, Sabtu, 12 Juli 2014)