Kamis, September 10, 2015

Olahraga Bali dalam Status “Gawat Darurat”

  
Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang jatuh setiap 9 September (kemarin), diwarnai duka insan dan dunia olahraga Bali. Atlet judo Bangli Wayan Agus Widiantara meninggal saat bertanding di arena Porprov Bali XII/2015 di Buleleng.
Kematiannya pada Selasa siang, 8 September 2015, itu sungguh menyayat hati. Seorang atlet yang sedang berjuang membela nama daerahnya harus kehilangan nyawa. Siapa yang salah?

Tak salah jika Ketua Umum KONI Bali Ketut Suwandi menyebut ini musibah. Bisa saja, sebagai orang beriman, kita percaya soal umur manusia adalah takdir. Tapi, apa itu cukup? Tentu tidak. Kematian Agus bukan yang pertama tahun ini. Pada 17 April 2015 lalu, atlet pelajar pencak silat Klungkung bernama I Gede Artawan juga tewas saat bertanding di arena Porsenijar Klungkung 2015. Pelajar kelas XII jurusan IPB2 SMA Pariwisata Klungkung, itu meregang nyawa setelah diduga terkena tendangan di dada.

Ya, dalam setahun, dua jiwa generasi muda melayang di lapangan. Ya, dunia olahraga Bali kini berstatus Gawat Darurat!

Di luar kedua peristiwa itu adalah musibah, tragedi ini tetaplah serius. Karena menyangkut keselamatan jiwa. Bagaimana kejadian ini menjadi pelajaran sangat-sangat berharga bagi insan olahraga Bali. Mulai petinggi KONI, pengurus cabang olahraga, pelatih, ofisial, petugas medis dan atlet itu sendiri. Bahwa olahraga bukan sekadar mengejar prestasi dan bonus semata. Tapi lebih dari itu, olahraga seharusnya adalah kegembiraan, sportivitas, dan yang utama keselamatan jiwa.

Siapa pun maklum, jika olahraga, terutama cabor bela diri, penuh risiko dan keras. Soal atlet berdarah-darah, cedera, patah tulang hingga cacat atau meninggal dunia adalah bagian dari risiko menjadi olahragawan. Tapi, harus diingat, masing-masing olahraga dilahirkan dengan rambu-rambu dan regulasinya sendiri. Semua tentu bermuara pada keselamatan jiwa atlet.   

Sudah saatnya, dari peristiwa ini seluruh insan olahraga Bali mengambil pelajaran berharga. Untuk kembali mengedepankan keamanan dan kondisi atlet. Bukan lagi mengejar prestasi dengan membabi buta dan menghalalkan segala cara. Tidak sekadar mengejar target-target dengan melupakan syarat-syarat kelayakan fisik dan psikologis atlet.

Sudah saatnya ada pengawasan maksimal saat atlet bertanding. Mulai oleh tim medis, juri, wasit, pelatih dan ofisial. Bagaimana seorang pelatih benar-benar mengetahui kondisi dan riwayat medis atletnya. Karena mereka lah unsur penting keamanan dalam pertandingan. Soal kematian memang tak ada yang tahu. Tapi, tak salah jika upaya antisipasi dan pengawasan diutamakan. Dan tak kalah penting adalah atlet jujur mengakui kondisi kesehatannya.


So, siapa yang salah dalam tragedi Buleleng? Sah-sah saja kita menyebutnya musibah. Dan nasi sudah jadi bubur. Kepergian Agus Widiantara pun sudah kita ikhlaskan. Semoga Agus tenang di alam barunya, dan orang tua, keluarga, saudara, serta teman-temannya dikuatkan dan tabah. Cukup tragedi kematian Agus menjadi yang terakhir di pentas olahraga Bali. Jangan lagi ada atlet yang meregang nyawa saat melakoni olahraga yang dia geluti dan cintai.

Saya percaya, setiap cabang olahraga sudah memiliki protap baku dalam menggelar pertandingan. Terutama untuk keselamatan atlet. Kita pun yakin dan percaya, tak ada pengurus olahraga dan pelatih yang ingin atletnya kehilangan nyawa saat bertanding. 
Tapi, dunia olahraga Bali sudah terlanjur berstatus gawat darurat. Setidaknya menurut saya. Mari introspeksi. Dan, sudah saatnya regulasi dan protap setiap cabang olahraga benar-benar ditegakkan, dan bukan malah diakal-akali..!

Selamat Hari Olahraga Nasional. Selamat jalan dan terima kasih Agus Widiantara… (*)






  

Jumat, Agustus 14, 2015

My Way



Lagu My Way yang dipopulerkan Frank Sinatra, menurut saya, sejauh ini masih salah satu lagu dengan lirik paling wow. Dalem bingit dah. Tak heran, banyak tokoh menyukai lagu ciptaan sahabat Frank, penyanyi Kanada Paul Anka ini. Bagi saya, ini lagu tepat untuk seorang pria sejati. Menjalani hidup dengan kuat dan bertanggung jawab. Walau praktiknya sulit ya, hehehe.

Beberapa penyanyi sempat membawakan lagu epic ini. Elvis Presley, Robbie Williams, atau Sid Vicious Sex Pistols yang mengganti beberapa liriknya ala punk. Tapi, cara Frank Sinatra menyanyikannya tetap yang paling pas. Menurut saya pastinya. Hehe.

Ahmad Dhani saat menjadi juri Indonesian Idol dalam salah satu episode mengatakan, menyanyikan My Way harus lah dengan ekspresi sombong. Hmmm, ada benarnya. Ini memang lagu penuh percaya diri, kalau tak mau disebut sombong. Emosional, egois, angkuh, gengsi tinggi, sok gagah, sok hebat, dan sifat-sifat individual lainnya ada di lagu ini. Tak heran, konon lagu ini dilarang diputar di rumah-rumah karaoke di Filipina. Ceritanya, ada sebuah kejadian seorang pria ditembak mati saat menyanyikannya dengan karaoke. Wih, seyeemmmm..

Ada banyak penulis blog yang mencoba menerjemahkan lirik My Way ke dalam bahasa Indonesia. Ada yang menurut saya agak pas, ada yang menurut saya pas-pasan. Hehe. Memang kadang sulit mendapatkan padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk mengartikan lirik lagu ini secara tepat. Itu sebab, saya tak mau menerjemahkannya. Kata-kata dalam lagu itu, versi saya, memang hanya cocok dalam bahasa Inggris. Kalau pun “dipaksakan” di-translete, itu sifatnya sekadar mengartikan.

Ada banyak juga yang mencoba mendeskripsikan arti lagu ini. Saya mencoba menambahkannya. Tentu saja versi saya. Lagu ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang pria yang penuh lika-liku. Sebuah kisah panjang menjelang ajalnya. Dia bercerita memiliki hidup yang sempurna. Telah melalui segala pesta, cobaan dan rintangan. Cinta, tawa dan tangis telah dilalui. Tapi, dia juga mengakui telah membuat banyak kesalahan dalam hidupnya. Tapi, dengan angkuh tak mau memperlihatkan kelemahannya. Dia ingin orang tak mengetahui kekurangannya. Dia menghadapi semua luka dengan caranya sendiri. Jalan yang dia pilih sendiri. Sombong bukan? Hehehe.

Saya sepakat, ujung lirik My Way adalah klimaks lagu ini. Frank mengatakan: “Bagi seorang laki-laki, apa yang telah dia capai dalam hidupnya? Jika bukan karena dirinya sendiri, berarti dia bukan siapa-siapa.” Itu sebab saya sepakat, Paul Anka menyebut hanya Frank Sinatra yang pantas menyanyikan lagu ini. Di akhir lagu, Frank Sinatra berkata: ”Sejarah mencatat, aku telah melakukannya. Dan dengan cara ku sendiri.” Sombong, egois tapi bertanggung jawab. (*)


My Way
(Frank Sinatra)

And now, the end is near;
And so I face the final curtain.
My friend, I'll say it clear,
I'll state my case, of which I'm certain.

I've lived a life that's full.
I've traveled each and every highway;
And more, much more than this,
I did it my way.

Regrets, I've had a few;
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

I planned each charted course;
Each careful step along the byway,
And more, much more than this,
I did it my way.

Yes, there were times, I'm sure you knew
When I bit off more than I could chew.
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall;
And did it my way.

I've loved, I've laughed and cried.
I've had my fill; my share of losing.
And now, as tears subside,
I find it all so amusing.

To think I did all that;
And may I say - not in a shy way,
"Oh no, oh no not me,
I did it my way".

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught.
To say the things he truly feels;
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows -
And did it my way!


(west denpasar, august 14th 2015)


Selasa, Juli 22, 2014

22 Juli Siapa Pun Dia..

ALMARHUM WS Rendra tak suka mahasiswa-mahasiswa di Jogja mencontek habis gaya hidup ugal-ugalan si Binatang Jalang Chairil Anwar. Karena tak mungkin ada yang menyamai kejeniusannya.

Seperti halnya Dahlan Iskan melarang wartawan baru Jawa Pos meniru gaya Kompas. Karena tak mungkin semua koran menjadi Kompas.

Halnya Taufik Ismail mengatakan: "Tidaklah semua menjadi kapten. Tentu harus ada awak kapalnya. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Jadilah saja dirimu. Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri..."

Walaupun masih diperdebatkan sebagai contekan karya Douglas Maloch (Be The Best of Wathever You Are).

So, tak mungkin berharap Presiden baru Indonesia bisa seperti atau lebih baik dari para pendahulunya. Karena siapa pun dia, tak mungkin sempurna...


(muding, kerobokan, 22 Juli 2014)


Sabtu, Juli 19, 2014

breaking news dari donetsk..

SAYA baru pulang ngantor, Kamis malam (17/7). Setelah menghabiskan jagung bakar, yang saya beli di lapangan Puputan Badung, saya nonton tv.

Saat itu Tonight Show-nya Desta sama Vincent di NET.TV. Salah satu bintang tamunya Irgi Fahrezi. Temanya lumayan. Irgi yang akhir 90-an top sebagai Lupus di Indosiar, itu adalah Duta Museum Pemda DKI Jakarta.

Bla-bla saya larut dalam obrolan mereka seputar museum dan nasibnya kini. Saya jadi ingat, terakhir ke museum Januari lalu. Anter keluarga om istri saya dari Krian, Sidoarjo ke Museum di dalam Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Renon. Hehehe. Di Bali lebih dikenal dengan nama monumen Bajra Sandhi.

Usai talk show tengah malam itu, tiba-tiba ada breaking news di NET.TV. Pesawat Malaysia Airlines dengan kode penerbangan MH-17 rute Amsterdam-Kuala Lumpur kecelakaan wilayah di Donetsk, perbatasan Ukraina-Rusia. (Saat itu) Diduga 280 penumpang dan 15 krunya tewas!! Astagfirullah..Saya bengong sesaat.

Malaysia Airlines lagii?? Demikian status pertama saya di BBM. Tak semenit kemudian, saya baca di twitter juga lagi rame berita KMP Gelis Rauh, jurusan Padangbai-Lembar terbakar. Beruntung dan alhamdulillah,153 penumpang termasuk awak kapalnya selamat. Duka di 10 hari terakhir ramadan.

Ya, semua tahu, 8 Maret lalu Malaysia Airlines MH-370 rute Kuala Lumpur-Beijing juga mengalami nahas. Lenyap misterius dan tak diketahui rimbanya hingga kini (4 bulan kemudian). Saya bukan ahli penerbangan dan politik perang, jadi biarlah yang cakap soal itu membahasnya.

Saya ingat, jelang MH-37 hilang 8 Maret lalu, saya dan istri sedang bersiap liburan ke Singapura dan Batam. Liburan ke luar negeri pertama kami berdua. Kedua kali ke Singapura. Sebelumnya sendiri-sendiri. Istri tahun 2011, saya 2013 lalu.

Kami berangkat 11 Maret pagi dengan Air Asia. Akibat hilangnya MH-37 sangat terasa di imigrasi Changi (Singapura) dan Batam. Terutama saat kami pulang 13 Maret malam. Penjagaan di Changi berlapis. Bahkan tas kecil saya yang berisi peralatan mandi dan (maaf) underwear, dibuka dan diperiksa petugas cowok berwajah oriental. Hehe. Saya sampai minta maaf ke petugas itu. Dia bilang sambil senyum: "no problem".

Beberapa penumpang juga sama. Serombongan pria berkulit hitam di depan saya, diperiksa cukup lama. Ada satu orang membawa beberapa patung. Entah dibeli di mana. Sempat dongkol, karena pria Afrika itu lemot mengeluarkan barang-barangnya. Tapi, sudahlah. Saya ikuti saja prosedur rumit dan berliku ini hingga kami akhirnya berangkat pulang dengan selamat di Bali.

Saat di Batam saya ingat, suami teman istri saya (hehe, ribet ya), yang kami kunjungi adalah wartawan Kompas biro Kepulauan Riau (Kepri). Namanya mas Kris. Dia bilang, hilangnya MH-37 bisa jadi peringatan sekaligus kualat bagi Malaysia. Lho kok?

Ya, saya memang belum pernah ke Malaysia. Tapi, cerita soal buruknya keamanan Imigrasi Malaysia sudah bukan rahasia umum. Mas Kris memperkuat cerita itu. Bagaimana di Kuala Lumpur, para petugas imigrasi bisa disogok untuk keluar masuk negeri jiran itu. Termasuk wilayah-wilayah perbatasan Malaysia lainnya. Terutama yang berdekatan dengan Indonesia.

Fakta itu memang tak terbantahkan. Di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, sidang WNA Malaysia atau WNI yang tertangkap membawa narkoba sering digelar. Rata-rata mereka diamankan bea cukai atau imigrasi bandara Ngurah Rai Bali, setiba dari Kuala Lumpur! Menurut mas Kris, intinya, Malaysia terkesan galak di dalam negeri, tapi tak mau tahu ketika seseorang pergi dari wilayahnya. Cuci tangan, seperti itu lah. Maka, banyak yang tak kaget, ketiga ada kabar sejumlah penumpang MH-37 diduga menggunakan paspor/visa palsu.

Lalu kini, apes menimpa MH-17 yang akan menuju Kuala Lumpur dari Amsterdam, Belanda. Yang menyedihkan, dari 295 penumpang, ada 14 korban (ada dua keluarga tewas bersama) dari Indonesia. Dengan lima korban dari Bali (tiga di antaranya satu keluarga). Pesawat jenis boeing 777-200 yang terkenal aman itu, jatuh dan tinggal puing-puing di wilayah Donetsk, Ukraina.

Setahu saya Donetsk punya klub bola top Shaktar Donetsk yang sering tampil di liga champions. Rival berat Dynamo Kiev, jawara Liga Ukraina yang terkenal dengan eks bomber AC Milan Andriy Shevchenko. Kali ini (mungkin) Malaysia tak bersalah. Karena wilayah itu sedang konflik dan MH-17 diduga ditembak roket. Tapi entahlah.

Well, musibah bisa kapan dan di mana saja terjadi. Pertanyaannya, kenapa harus Malaysia Airlines (lagi)....?? Coba nanti saya tanya mas Kris. Siapa tahu dia punya ulasan lain..:D a

(Muding, Kerobokan, 19 Juli 2014)