Selasa, Juli 22, 2014

22 Juli Siapa Pun Dia..

Almarhum WS Rendra tak suka mahasiswa-mahasiswa di Jogja mencontek habis gaya hidup ugal-ugalan si Binatang Jalang Chairil Anwar. Karena tak mungkin ada yang menyamai kejeniusannya. Seperti halnya Dahlan Iskan melarang wartawan baru Jawa Pos meniru gaya Kompas. Karena tak mungkin semua koran menjadi Kompas. Halnya Taufik Ismail mengatakan: "Tidaklah semua menjadi kapten

Tentu harus ada awak kapalnya….

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

Rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri." Walaupun masih diperdebatkan sebagai contekan karya Douglas Maloch (Be The Best of Wathever You Are). So, tak mungkin berharap Presiden baru Indonesia bisa seperti atau lebih baik dari para pendahulunya. Karena siapa pun dia, tak mungkin sempurna...

(muding, kerobokan, 22 Juli 2014)


Sabtu, Juli 19, 2014

breaking news dari donetsk..

Saya baru pulang ngantor, Kamis malam (17/7). Setelah menghabiskan jagung bakar, yang saya beli di lapangan Puputan Badung, saya nonton tv. Saat itu Tonight Show-nya Desta sama Vincent di NET.TV. Salah satu bintang tamunya Irgi Fahrezi. Temanya lumayan. Irgi yang akhir 90-an top sebagai Lupus di Indosiar, itu adalah Duta Museum Pemda DKI Jakarta. Bla-bla saya larut dalam obrolan mereka seputar museum dan nasibnya kini. Saya jadi ingat, terakhir ke museum Januari lalu. Anter keluarga om istri saya dari Krian, Sidoarjo ke Museum di dalam Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Renon. Hehehe. Di Bali lebih dikenal dengan nama monumen Bajra Sandhi. Usai talk show tengah malam itu, tiba-tiba ada breaking news di NET.TV. Pesawat Malaysia Airlines dengan kode penerbangan MH-17 rute Amsterdam-Kuala Lumpur kecelakaan wilayah di Donetsk, perbatasan Ukraina-Rusia. (Saat itu) Diduga 280 penumpang dan 15 krunya tewas!! Astagfirullah..Saya bengong sesaat. Malaysia Airlines lagii?? Demikian status pertama saya di BBM. Tak semenit kemudian, saya baca di twitter juga lagi rame berita KMP Gelis Rauh, jurusan Padangbai-Lembar terbakar. Beruntung dan alhamdulillah,153 penumpang termasuk awak kapalnya selamat. Duka di 10 hari terakhir ramadan. Ya, semua tahu, 8 Maret lalu Malaysia Airlines MH-370 rute Kuala Lumpur-Beijing juga mengalami nahas. Lenyap misterius dan tak diketahui rimbanya hingga kini (4 bulan kemudian). Saya bukan ahli penerbangan dan politik perang, jadi biarlah yang cakap soal itu membahasnya. Saya ingat, jelang MH-37 hilang 8 Maret lalu, saya dan istri sedang bersiap liburan ke Singapura dan Batam. Liburan ke luar negeri pertama kami berdua. Kedua kali ke Singapura. Sebelumnya sendiri-sendiri. Istri tahun 2011, saya 2013 lalu. Kami berangkat 11 Maret pagi dengan Air Asia. Akibat hilangnya MH-37 sangat terasa di imigrasi Changi (Singapura) dan Batam. Terutama saat kami pulang 13 Maret malam. Penjagaan di Changi berlapis. Bahkan tas kecil saya yang berisi peralatan mandi dan (maaf) underwear, dibuka dan diperiksa petugas cowok berwajah oriental. Hehe. Saya sampai minta maaf ke petugas itu. Dia bilang sambil senyum: "no problem". Beberapa penumpang juga sama. Serombongan pria berkulit hitam di depan saya, diperiksa cukup lama. Ada satu orang membawa beberapa patung. Entah dibeli di mana. Sempat dongkol, karena pria Afrika itu lemot mengeluarkan barang-barangnya. Tapi, sudahlah. Saya ikuti saja prosedur rumit dan berliku ini hingga kami akhirnya berangkat pulang dengan selamat di Bali. Saat di Batam saya ingat, suami teman istri saya (hehe, ribet ya), yang kami kunjungi adalah wartawan Kompas biro Kepulauan Riau (Kepri). Namanya mas Kris. Dia bilang, hilangnya MH-37 bisa jadi peringatan sekaligus kualat bagi Malaysia. Lho kok? Ya, saya memang belum pernah ke Malaysia. Tapi, cerita soal buruknya keamanan Imigrasi Malaysia sudah bukan rahasia umum. Mas Kris memperkuat cerita itu. Bagaimana di Kuala Lumpur, para petugas imigrasi bisa disogok untuk keluar masuk negeri jiran itu. Termasuk wilayah-wilayah perbatasan Malaysia lainnya. Terutama yang berdekatan dengan Indonesia. Fakta itu memang tak terbantahkan. Di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, sidang WNA Malaysia atau WNI yang tertangkap membawa narkoba sering digelar. Rata-rata mereka diamankan bea cukai atau imigrasi bandara Ngurah Rai Bali, setiba dari Kuala Lumpur! Menurut mas Kris, intinya, Malaysia terkesan galak di dalam negeri, tapi tak mau tahu ketika seseorang pergi dari wilayahnya. Cuci tangan, seperti itu lah. Maka, banyak yang tak kaget, ketiga ada kabar sejumlah penumpang MH-37 diduga menggunakan paspor/visa palsu. Lalu kini, apes menimpa MH-17 yang akan menuju Kuala Lumpur dari Amsterdam, Belanda. Yang menyedihkan, dari 295 penumpang, ada 14 korban (ada dua keluarga tewas bersama) dari Indonesia. Dengan lima korban dari Bali (tiga di antaranya satu keluarga). Pesawat jenis boeing 777-200 yang terkenal aman itu, jatuh dan tinggal puing-puing di wilayah Donetsk, Ukraina. Setahu saya Donetsk punya klub bola top Shaktar Donetsk yang sering tampil di liga champions. Rival berat Dynamo Kiev, jawara Liga Ukraina yang terkenal dengan eks bomber AC Milan Andriy Shevchenko. Kali ini (mungkin) Malaysia tak bersalah. Karena wilayah itu sedang konflik dan MH-17 diduga ditembak roket. Tapi entahlah. Well, musibah bisa kapan dan di mana saja terjadi. Pertanyaannya, kenapa harus Malaysia Airlines (lagi)....?? Coba nanti saya tanya mas Kris. Siapa tahu dia punya ulasan lain..:D (Muding, Kerobokan, 19 Juli 2014)

Sabtu, Juli 12, 2014

Juni-Juli Istimewa

Juni-Juli 2014 ini istimewa. Ada piala dunia di Brasil, ada Pilpres di mari dan bulan suci Ramadan. Soal Pilpres biarlah yang expert mengulasnya. Lalu ada ribut-ribut (lagi) soal Gaza. Yang terakhir saya tak mau ikut komen. Problem pelik yang konon akan terjadi hingga kiamat. Perasaan saya campur-campur. Sedih pasti, karena timnas Belanda harus tersingkir di tangan Argentina pada semifinal piala dunia. Oranje kalah adu penalti 2-4. Ada sedikit pelipur lara, karena yang mengalahkan Belanda adalah Argentina. Tango adalah favorit kedua saya setelah Belanda. Keduanya adalah kenangan masa kecil saya. Suka Argentina karena kali pertama nonton piala dunia, mereka lah juaranya. Tepatnya pada 1986, saat saya kelas 1 madrasah ibtida'iyah (SD) di kampung Cupel. Saya coba mengingat, waktu itu finalnya pagi hari ditayangkan langsung TVRI. Argentina lawan Jerman Barat (sebelum bersatu pada 1991) di stadion Azteca, Mexico City. Saya nonton lewat tv hitam putih di rumah datuk (kakek). Emosi saya, sebagai anak kecil, belum maniak. Tapi, waktu itu saya yakin Maradona dkk akan juara. Dan benar, Argentina menang 3-2 dan meraih trofi mirip paha ayam itu. Sejak itu saya suka Argentina dan menempatkan Jerman sebagai "musuh". Saya tak suka lihat Rudi Voeller (striker Jerman ) yang wajahnya bagi saya seperti penjahat di film-film action. Hehehe..dasar anak kecil. Tapi, kecintaan saya kepada Argentina tak sebesar kepada Belanda. Saya kenal Ruud Gullit, Marco Van Basten, Frank Rijkard dkk saat Euro (Piala Eropa) 1988 di Jerman Barat. Sebagai anak kelas 4 SD, saya jatuh hati karena timnas Belanda berbaju oranye dengan desain sisik buaya. Warna yang ngejreng dan beda. Hehe. Saya ingat, nonton final Euro  1988 via tv berwarna merek intel 14 inch yang baru dibeli bapak saya di rumah Cupel. Kick off-nya masih "sore", selepas isya' jam 20.00 wita. Pas, karena saya baru turun mengaji. Belanda lawan Uni Soviet di stadion Olimpiade, Munich (Munchen). Lagi-lagi saya bela Belanda karena selain faktor kostum oranye dan Gullit cs, juga karena saya benci Uni Soviet. Hehe (dasar anak kecil lagi). Zaman itu masih era perang dingin. Uni Soviet berkostum putih-putih dengan tulisan di dada CCCP, singkatan dari Soyuz Sovetskikh Sotsialisticheskikh Respublik. Atau dalam bahasa Inggris biasa disingkat USSR (Union of Soviet Socialist Republics). Negara kesatuan politik sosialis yang terdiri dari beberapa republik dengan pusat negara di Moskow (Rusia). Entahlah, mungkin efek film Rambo, saya anti Soviet :D. Well, bersyukur Belanda menang 2-0 dan merebut trofi Eropa pertama mereka. Saya pun tidur nyenyak, hingga bertahun-tahun kemudian Belanda tak lagi pernah juara (Eropa atau Dunia). Sejak piala dunia 1990 selalu jadi unggulan, Belanda selalu gagal. Hingga nyaris pada piala dunia 2010 lalu di Afrika Selatan. Kalah menyakitkan dari Spanyol, lewat gol Andre Iniesta di extra time. Entah sampai kapan Belanda harus menunggu. Seperti saya masih menanti, kapan timnas Indonesia main di piala dunia. Saat saya tak lagi anak-anak, dan  ketika (mungkin), giliran saya membenci Belanda, Argentina dan semua lawan timnas tanah air saya.. :) -selamat menjalankan ibadah puasa. mohon maaf lahir batin-        (muding, Sabtu, 12 Juli 2014)

Jumat, Mei 09, 2014

Asyiknya Jadi Gibol

PENGGILA bola (gibol), buat saya berarti netral. Menggemari sepak bola dalam arti sesungguhnya. Bukan fanatik berlebihan dan bisa obyektif. Itu membuat saya bebas berkomentar apa saja soal bola. Seorang teman di kantor sempat bertanya; saya sebenarnya fans klub mana? Hehe. Saya jawab saja, saya fans sepak bola. Ya, karena buat saya, sepak bola pada dasarnya lahir untuk menghibur. Saya menghormati teman-teman yang mendukung atau fans klub/timnas sepak bola tertentu. Tidak ada yang salah, karena begitulah seharusnya. So, ketika saya mem-bully pelatih Chelsea saat ini, Jose Mourihno, bukan karena saya membenci Chelsea. Bukan pula tak suka cara bermain The Blues. Tapi, lebih pada fakta, bahwa ini lah sepak bola. Hadir untuk menghibur, dan memberi kesenangan kepada penggemarnya. Karena buat saya, kepuasan sebagai gibol adalah berseteru dan berkompetisi secara sehat. Saya suka Liverpool, tapi bukan berarti saya membela mati-matian the reds. Begitu pula kecintaan kepada timnas sepak bola Indonesia. Tentu saja saya cinta timnas Garuda. Namun, bukan berarti tak boleh mencaci timnas negara sendiri jika gagal. Sepak bola adalah gairah. Di mana kita puas ketika menang atau juara, dan kecewa ketika kalah. Bebas mengolok-olok (tak berlebihan) kepada kompetitor, dan siap pula diolok-olok. Jika saya hari ini mem-bully Mourinho, toh MoU dengan segudang prestasinya sudah tak terhitung mem-bully para pesaingnya. Sebab, bisa saja, jika musim ini dia gagal meraih trofi, musim depan dia bersinar lagi. So, wahai gibol, enjoy saja sepak bola. Silakan arogan dan sombong saat menang, dan siap di-bully saat kalah :p. Jadikan hiburan pelepas penat. Santai saja. Bukankah, tak ada yang abadi di lapangan sepak bola? Hehe. So, don't be serious guys!! :D -the end- (muding, kerobokan, kuta utara, 9 Mei 2014) 

Jumat, April 05, 2013

Biar Miskin asal Sombong

Aku ingin muluk-muluk.
Jadi yang terhebat.
Hanya aku yang bisa.
Orang lain tak berguna.

Ya, aku memang sombong.
Benar aku congkak.
Peduli amat.
Ini lah aku.

Aku tak butuh teman.
Sahabat adalah diriku sendiri.
Buat apa mereka.
Aku punya semua.

Aku lah si tebal muka.
Lahir untuk jadi juara.
Aku lah si hiperbola.
Benar salah tak masalah..

Minggu, Maret 24, 2013

Review Jeni Wahyu Book


*Review Buku Touch Down Jiran! (by Jeni Wahyu)

Simple Journey to Share


Sebagai misua si penulis, bisa jadi terlalu subjektif, jika saya mereview buku ini. Tapi, sebagai editornya, boleh lah ya..hehe. Saat mengenal @nulisbuku di twitter, dan mengetahui langsung konsepnya di radio show tvone awal 2012 lalu, saya langsung teringat blog istri saya. Kenapa tak diterbitkan di nulis buku? 


Awalnya, istri saya sempat tak pede. Dia bilang, apa menariknya perjalanan secuil dijadikan buku? Cuma ke Singapura dan Malaysia lagi! Tapi saya tetap ngotot. Saya katakan, poinnya bukan itu. Karena, walaupun pergi ke Singapura atau Malaysia itu “pasaran”, saya yakin, banyak orang yang memimpikannya. Karena, tak semua orang punya kesempatan ke sana (saya salah satunya, hehe). 

Bagi saya, yang bolak balik ke sana pun belum tentu bisa menuliskannya. Karena, sekali lagi, bukan soal ke Singapura atau Malaysia itu hal yang biasa, buku ini ada. Buku ini lebih ke preview dan review pergi sederhana ke luar negeri. Bukan sekadar hura-hura. 

Buku ini adalah bagaimana si penulis yang mantan pacar saya ini :p, bukan berangkat tiba-tiba. Tapi diawali mimpi. Ya, mimpi! Si penulis mewujudkan mimpinya secara sederhana. Lalu bertahap. Di bab pertama, berjudul Liburan ke Mana Ya, Jeni menulis,”Asal tau sodara-sodara. Si ibu ini (jeni herself) berprinsip: asal bisa ke luar negeri udah bersyukur sangatt. Gak perlu deh banyak-banyak bawa sangu. Hehehe. Yang penting bisa tetep foto-fotoan, buat kenang-kenangan anak cucu kelak,” (halaman 6-7, ditulis Sabtu 9 Oktober 2010). Bagi saya, itu adalah nawaitu yang sederhana. Tidak berlebihan. Tidak nekat. Hanya keinginan ringan saja. 

Bagaimana mewujudkannya? Jeni sadar, kami berdua berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Orang tua telah naik haji saja, kami sudah alhamdulillah. Pendapatan kami di tiga tahun pertama perkawinan, jelas belum cukup untuk berfoya-foya, apalagi ke luar negeri. Lalu? 

Jeni merealisasikannya lagi-lagi dengan simple. Dia banyak membaca referensi. Dia tak lelah belajar, dan berkomunikasi. Membaca buku-buku traveling. Terutama mengoleksi dan membaca buku-buku miss jinjing, Amelia Masniari. Memanfaatkan media sosial semaksimal mungkin. Melahap semua info soal traveling di televisi. Serta (ini yang penting), banyak bertanya. Baik ke teman-temannya yang sudah pengalaman ke luar negeri, atau berbagi di blog. 

Selebihnya adalah soal persiapan. Yang lagi-lagi tak sekejap. Bagaimana Jeni harus membeli tiket promo Air Asia Denpasar-Singapura dan Kuala Lumpur-Denpasar, 6 bulan sebelum berangkat. Itu pun belum punya paspor! Semua karena untuk menyiasati bajet yang sebenarnya minim. Simak juga bagaimana Jeni mengurus paspor seorang diri. Tanpa calo. Tentu saja untuk penghematan (lagi). Semua diurus jauh-jauh hari dengan perhitungan cermat. 

Khusus tulisan My Passport di bab IV (halaman 16) pembaca juga bisa menimba banyak ilmu. Karena, cara kepengurusan dan syarat-syarat membuat paspor di keimigrasian Denpasar, Bali, lengkap dengan suasananya ditulis di sana. Bahkan hingga harga map Rp 10 ribu. Di buku ini, Jeni juga berbagi bagaimana cara mencari penginapan dan transportasi murah (tapi nggak murahan) dan hemat di Singapura dan Malaysia. Termasuk urusan transportasi dan konsumsi agar tetap sesuai kantong. 

Sisanya adalah cerita umum dan foto-foto selama di sana. Dengan bumbu Jeni berangkat seorang diri ke sana. Dari rencana berempat, hingga akhirnya tanpa teman. Kemudian tambahan tulisan kecil tentang pergi hemat (lagi, hehe) ala backpekeran kami ke Gili Trawangan di NTB, pada akhir 2011 lalu. Plus catatan kecil Jeni di blog seputar traveling lainnya. Untuk menambah suasana blog, seluruh komentar teman-teman Jeni dimasukkan. Di sana terlihat interaksi Jeni dan teman-temannya sesama blogger. 

Dan yang mengejutkan (ini yang paling saya suka), tulisan My Passport mendapat komentar terbanyak (sekitar 13 komentar+jawaban Jeni). Sebab, tak hanya teman-teman sesama blogger yang mengomentarinya. Beberapa orang yang ingin bertanya soal kepengurusan paspor di imigrasi Denpasar ternyata juga masuk. Ini bisa jadi karena mereka searching di google.

So, secara keseluruhan, buat saya, buku ini bukan soal pamer bepergian ke Singapura dan Malaysia. Saya lebih suka menyebutkan simple journey to share. Dengan spirit Man Jadda Wa Jadda yang dipopulerkan penulis Ahmad Fuadi yang terkenal dengan novelnya Negeri 5 Menara. 

Ada cerita, seorang teman memprotes saya, ketika Jeni mempublish cover buku ini di facebook. Teman itu bilang,”Ah, aku tak tertarik dengan Singapura dan Malaysia. Indonesia lebih indah. Masih banyak destinasi dan tempat menarik untuk dibukukan,” katanya dalam pesan ke BBM saya. 

Terima kasih sangat untuk teman itu atas kritik dan protesnya. Hehe. Siap. Itu kritik bagus dan saya setuju. Tapi saya menjelaskan, bahwa itu bukan poin buku ini. Seperti penjelasan resume soal buku ini, Jeni mengatakan,” Aku tahu, banyak orang yang punya pengalaman melebihi aku. Bagi yang pernah atau sering ke Singapura atau Malaysia, semoga menjadi pengenang. Bagi yang belum dan bercita-cita ke sana, semoga menjadi inspirasi dan penyemangat. Karena aku percaya, kemauan dan semangat besar adalah modal kuat mewujudkan mimpi dan cita...,” 
Semoga buku ini bermanfaat. Terima kasih. 
 



Denpasar, 23 Maret 2013 

Oleh: Rosihan Anwar (@rosihan_anwar)
-----Sehari-hari editor di Jawa Pos Radar Bali---

Senin, Juni 04, 2012



Siapa Mau Negen Bebek?
Minggu pagi, 19 September 2010.  Ruang Kerta Gosana, Pusat Pemerintahan Badung, Mangupura. Hari itu, kepengurusan Pengda (Pengprov) PSSI Bali periode 2009-2013 dilantik. Untuk kali ketiga, tokoh sepak bola asal Kuta, Made Sumer dikukuhkan sebagai nakhoda PSSI Bali. Pelantikan dilakukan langsung Ketua Umum PSSI saat itu, Nurdin Halid. Made Sumer sendiri saat itu kondisi kesehatannya sedang naik turun.
Sumer mengaku “terpaksa” bersedia dipilih lagi. Meski ia merasa ingin ada pengganti. Kesibukannya bertambah setelah menjadi Ketua DPRD Badung. Faktor lain, adalah masalah kesehatannya. Serta sulitnya mencari sosok yang siap memimpin sepak bola Bali.
“Saat Musda 2009 di Hotel Bali Summer (Kuta), tidak ada calon ketua yang mau datang. Saya sempat telepon Pak (Ketut) Suardana (tokoh sepak bola Ubud). Beliau jawab, siapa yang mau jadi Ketua PSSI pak?,” tutur Sumer saat memberikan sambutan saat pelantikan.  Cerita itu disambut tawa peserta pelantikan.
Sumer pun melanjutkan sambutannya. “Menjadi ketua PSSI itu sangat berat. Istilah orang Bali “care anak negen bebek” (seperti orang memikul bebek). Yang didapat hanya bunyi-bunyi dan maaf, tahi-tahi nya saja..,” imbuhnya, dengan lagi-lagi disambut geeerrr hadirin, termasuk Ketua Umum PSSI Nurdin Halid.
Cerita Sumer soal memikul bebek itu tak salah. Apalagi, beberapa bulan kemudian sang tokoh gila bola itu kemudian berpulang. Sumer meninggal pada Senin sore, 2 Mei 2011 di RS Husada Utama, Surabaya. Almarhum berpulang setelah tiga minggu mengalami stroke. Sumer tiba-tiba masuk rumah sakit, sepulang mengikuti kongres PSSI yang kacau balau di Hotel Premier, Pekanbaru, Riau, pada Sabtu, 26 Maret 2011. Hingga kini belum ada figur yang terang-terangan bersedia menggantikan posisi Sumer.
PSSI Bali sejauh ini masih dipimpin secara kolegeal oleh tiga wakil ketua. Masing-masing IGG Putra Wirasana (Wakil Ketua I), Gede Wardana (Wakil Ketua II), dan Ketut Suardana (Wakil Ketua III).  Ketiganya belum ada pernyataan bersedia menggantikan Sumer. Terlepas dari konflik PSSI dan KPSI saat ini, mencari tokoh yang bersedia memimpin PSSI memang tidak gampang.
Beberapa nama yang sempat mencuat terang-terangan menolaknya. Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara harus menggelar jumpa pers untuk menyatakan tak bersedia memimpin PSSI Bali. Alasannya, Ketua PSSI Denpasar itu ingin fokus mengurus sepak bola Denpasar. Wabup Badung, Ketut Sudikerta yang ketua PBVSI Bali (Voli) juga tak bersedia. Lalu, Ketua Umum KONI Kota Denpasar, Putu Ngurah Ardika juga mundur dari bursa. 
Terakhir, nama tokoh bola asal Gianyar, Cok Budi Suryawan (CBS) juga mengemuka seminggu terakhir. Anggota DPRD Bali itu dicalonkan oleh Pengkab PSSI Gianyar. Hasilnya? CBS tegas menyatakan menolak (Sportmania Radar Bali edisi Jumat, 1 Juni 2012). Mantan Bupati Gianyar itu mengaku bukan orang yang tepat. Dia berharap, PSSI Bali bisa menemukan tokoh yang punya waktu mengurus sepak bola Bali.
Kini, nasib sepak bola Bali sedang dipertaruhkan. Pasalnya, PSSI Pusat telah men-deadline agar PSSI Bali segera memiliki Ketua Umum pengganti Sumer. Batas waktunya adalah 13 Juni 2012 nanti (dua minggu lagi). Tugas itu diserahkan kepada wakil ketua III PSSI Bali Gede Wardana. Mantan Wabup Buleleng itu telah ditunjuk sebagai Caretaker oleh PSSI Pusat pimpinan Djohar Arifin.
Tugasnya cukup berat. Pasalnya, jika gagal menggelar Musprovlub, maka PSSI Bali terancam dibekukan. Sama seperti PSSI Jatim yang tak diakui PSSI Pusat.  Jika itu terjadi, maka sepak bola Bali akan tak diakui nasional. Klub-klub dan ribuan talenta muda bola Bali tak akan lagi bisa terlibat di arena nasional. Serta akibat-akibat lainnya. Harus diakui, deadline 13 Juni itu berbau politis. Karena FIFA telah memberi batas waktu 15 Juni nanti. Yakni menunggu PSSI-KPSI melakukan rekonsiliasi. Buat saya, biarlah itu urusan elite PSSI di Pusat.
Yang jelas, tulisan ini bukan soal PSSI v KPSI. Bukan pula tentang IPL v ISL. Tapi, soal masa depan sepak bola Bali. Soal siapa yang berani memimpin PSSI Bali. Tentang siapa yang bersedia negen bebek? (*)

  


Patih Nambi, Ubung, Senin 4 Juni 2012













Selasa, Mei 29, 2012



Rinduku Talango…

          Tadi pagi (29/5/2012) Wang (bapak saya) telepon.  Ada rencana kami sekeluarga akan kundangan ke Madura. Ada saudara sepupu saya yang mau nikah, abis lebaran nanti. Wih..Sudah berapa tahun ya, saya nggak ke tanah leluhur?  Hehehe. Bapak Saya memang berdarah Madura. Kakeknya (buyut saya) orang asli Talango. Sebuah pulau di seberang Pelabuhan Kalianget, Sumenep, Madura. 
          Seingat saya, terakhir ke Talango itu sekitar 2001. Waktu itu masih kuliah di Surabaya. Acaranya kundangan khitanan sepupu juga. Setelah itu, hingga menikah (2008), saya tak pernah lagi ke sana. Banyak yang berubah mungkin. Salah satu yang pasti, sekarang sudah ada Jembatan Suramadu. Pada 2001, saya masih naik kapal feri dari Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya menuju Pelabuhan Kamal di Bangkalan. 
          Baiklah. Saya sudah ancang-ancang mau ambil cuti. Istri juga sudah oke. Mudah-mudahan lancar, dan saya bisa berangkat ke sana. Sebenarnya, keluarga di Madura sudah banyak yang tinggal dan menetap di Denpasar. Tapi, setiap ada hajatan keluarga besar (seperti pernikahan), biasanya digelar di Talango. Sekalian acara kumpul keluarga. Buat saya, sekalian memperkenalkan keluarga jauh saya kepada istri..

Salam hangat.. Patih Nambi, Denpasar, 29 Mei 2012…@rosihan_anwar

Senin, April 23, 2012

"Sentimentil Day" on World Book Day


Hari ini agak sentimentil. Libur di rumah mertua di Sanggulan :). Horee.  Mau nulis apa ya di Hari Buku dan Hak Cipta Se-Dunia (Unesco) ini? Banyak kejadian menarik akhir pekan lalu. Pak Wamen ESDM yang namanya susah itu berpulang. Prof Widjajono Partowidagdo meninggal. Guru besar ITB tersebut tak tertolong nyawanya saat mendaki Gunung Tambora, di Sumbawa, NTB, Sabtu (20/4/12). Saya mendengar Wamen gondrong itu berpulang saat di kantor, Sabtu sore. Kebetulan sore itu Saya ada meeting dengan adik-adik Mading SMAN 1 Denpasar (SJC) di Kantor. Rencananya mereka mau ngisi YouthShare (halaman anak muda di Radar Bali), untuk edisi 30 April.
Ya, sudahlah. Waktu berjalan. Tapi, bagi Saya, setiap ada tokoh atau orang penting meninggal, Saya selalu mengenang dua sosok. Dialah juara dunia tiga kali Formula 1, idola Saya Ayrton Senna, yang meninggal pada 1 Mei 1994. Satu lagi, kakek (datuuk) tercinta Saya, almarhum Buhari, yang meninggal 15 Mei 2008 lalu.
Saat Senna meninggal, Saya teringat satu tulisan menarik. Yakni sebuah note yang dikirim seorang fans, saat pembalap Brazil itu akan dimakamkan. Tulisannya: Kematian pasti tiba. Hanya Kita tak pernah tahu. Sekarang atau 50 tahun lagi...Oke deh semoga  kita diberi kekuatan untuk menjalankan hidup ini. Amin.

Sanggulan, Tabanan, 23 April 2012...@rosihan_anwar... 

Rabu, Maret 28, 2012



Siman, Kesalahan yang Terulang

HANYA keledai bodoh yang jatuh di lubang yang sama. Demikian kata pepatah. Ya, dunia olahraga Bali kembali berduka atas kesalahan yang terulang. Perenang nasional kelahiran Bali, Gede Siman Sudartawa kini sudah resmi milik Riau. Kenyataan itu mungkin tak sedahsyat empat tahun lalu. Ketika jelang PON XVIII/2008 di Kaltim ada tiga kasus besar soal mutasi atlet Bali. Mulai Ayu Fani Damayanti (tenis lapangan), Bambang Saputra (biliar) maupun  Lydia Ivana Jaya (golf). Namun, tetap saja, kepergian Siman adalah pukulan telak. Terutama bagi KONI Bali dan seluruh insan olahraga Provinsi ini.
Saya memahami. Ada kompleksitas dalam kasus Siman. Pada satu sisi, KONI Bali ingin menegakkan aturan mutasi atlet. Di sisi lain, KONI Bali sedang berjuang di atas awan! Ya KONI Bali sedang bertarung sesungguhnya dengan Riau, sang host PON XVIII/2012. Kebetulan yang diambil Riau adalah Siman. Dan kebetulan pula Riau pesaing berat Bali pada PON Kaltim 2008 lalu. 

Pada perolehan medali akhir PON Kaltim, Bali berada di posisi ke-9, dengan 16 emas, 18 perak dan 26 perunggu. Sedangkan Riau tepat satu strip di bawahnya (posisi ke- 10) dengan 16 emas, 14 perak dan 23 perunggu.  Ya, Bali hanya unggul 4 perak dan 3 perunggu atas Riau!

So, bisa dibayangkan apa jadinya jika kemudian Riau dibela Siman di PON nanti. Pemuda kelahiran Klungkung 8 September 1994 itu adalah anak emas renang nasional saat ini. Pada SEA Games 2011 lalu, perenang spesialis gaya punggung itu meraih total 4 emas, dengan tiga rekor baru SEA Games. Satu hal yang pasti, Riau akan melesat jauh dari posisinya pada PON Kaltim lalu. Celakanya, jika itu terjadi, maka target mempertahankan posisi 9 besar kontingen Bali di PON mendatang bisa berantakan. 

Meratapi kepergian Siman mungkin agak cengeng. Tapi, saya yakin ini tak kan terjadi jika KONI Bali sigap sejak awal. Saya tahu, pengurus KONI Bali terdiri dari pembina-pembina olahraga terbaik di Pulau Dewata ini. Dan mereka yang berkecimpung di dunia renang Bali tahu siapa Siman sejak di usia dini. Terutama pengurus PRSI Bali maupun di Perkumpulan. Mereka tahu, berapa catatan waktu Siman. Apa saja prestasinya sejak di kejuaraan antar kelompok umur. Berapa medali emas yang direbut Siman di Porsenijar dan seterusnya.

Jadi, jika potensi besar Siman itu akhirnya dinikmati daerah lain, kerugian besar pastilah ada di Bali? Hanya pertanyaannya, apakah KONI dan PRSI Bali sudah merasa membina Siman? Apakah Siman bisa se-sukses sekarang jika tetap di bawah pembinaan KONI atau PRSI Bali? Sayang, waktu tak bisa diulang.

Kali ini, saya ingin kembali menyemangati jajaran pengurus KONI Bali dari kasus Siman ini. Cukup lah sengketa Siman ini yang menjadi yang terakhir. Sangat disayangkan, energi untuk persiapan PON Riau terbagi untuk kasus Siman. Jangan sampai KONI Bali, terutama para pengurus olahraga Provinsi ini lengah lagi. Jangan lagi menyia-nyiakan potensi besar bibit-bibit olahragawan Bali. Karena, hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama! (*)



Denpasar, 28 Maret 2012..

Rabu, Oktober 12, 2011



ilustrasi: kaskus


Libur..oh Capeknya...
Libur, enggak, libur, enggak. Aduh capeknya pekan ini ;).  Sebenarnya libur reguler Saya tiap hari Senin. Tapi pekan ini agak komplikated dwueh. Yesi, redpel Radar Bali gelar nikahan (lagi) di Lampung hingga akhir pekan kemarin. Pak Rai Warsa, Pimred, sama big boss pak Justin berangkat ke Eropa, Minggu (9/10). Ada pertemuan Surat Kabar Dunia di Wina, Austria. Kabarnya sampai tanggal 24 Oktober ini.
 Sebenarnya kantor fine-fine aja. Karena redaktur sudah cukup. Yesi, Senin (10/10) itu juga sudah datang dari Lampung. Itu saya pastikan setelah BBM mas Pipit, Korlip Radar Bali, sorenya. Dia bilang “Sampeyan libur aja, Yesi masuk hari ini,” katanya via BBM. Yup Saya bilang, asyik... Komposisi jadi pas. Yesi garap halaman utama, mas Pit halaman Kota, mas Ali halaman daerah, Gupta ekonomi, dan mas Rid halaman hiburan-sport (gantiin saya). Klop! Saya pun leha-leha (dari pagi sih) :3.   
“Bencana” datang petang harinya. Tiba-tiba HP Saya berdering pas jam 19.30 (jam start ngedit). Yesi bilang Saya harus masuk! Alamak! Kenapa? Ternyata anak mas Pit, si Bagas, mendadak sakit sore itu. Yah..padahal pas BBM mas pit oke-oke aja..hadeh,,. Ternyata dia panik, dan nggak sempat ngabari Saya. Baiklah..jiwa sembrani Saya tak bisa menolaknya. Meluncur lah saya ke kantor dengan “hati libur”.
Jatah libur Saya pun berpindah jadi Rabu. Karena hari Selasa sudah jadi miliknya mas Ridwan. Pekan pun menjadi bertambah muram, karena Selasa (11/11) malam timnas kalah 2-3 dari Qatar dalam lanjutan Pra Piala Dunia 2014. Nonton bareng di kantor sambil kerja. Sambil ngedit Saya sempat-sempatin memaki kekalahan itu. Ya sudahlah, nasib sepak bola kita seperti sudah suratan untuk kalah melulu. Yang pasti, Saya sudah dapat kepastian, Rabu (12/10) ini LIBUR! Tapi, nasib jurnalis siapa tahu. Bagi jurnalis, libur itu tak wajib. Menikmati dan terlatih untuk tidak libur sebuah keharusan. Dan yang jelas,  harus tetap on call setiap saat. Siapa tahu libur batal (lagi :((()!  (*)