Jumat, April 05, 2013

Biar Miskin asal Sombong

Aku ingin muluk-muluk.
Jadi yang terhebat.
Hanya aku yang bisa.
Orang lain tak berguna.

Ya, aku memang sombong.
Benar aku congkak.
Peduli amat.
Ini lah aku.

Aku tak butuh teman.
Sahabat adalah diriku sendiri.
Buat apa mereka.
Aku punya semua.

Aku lah si tebal muka.
Lahir untuk jadi juara.
Aku lah si hiperbola.
Benar salah tak masalah..

Minggu, Maret 24, 2013

Review Jeni Wahyu Book


*Review Buku Touch Down Jiran! (by Jeni Wahyu)

Simple Journey to Share


Sebagai misua si penulis, bisa jadi terlalu subjektif, jika saya mereview buku ini. Tapi, sebagai editornya, boleh lah ya..hehe. Saat mengenal @nulisbuku di twitter, dan mengetahui langsung konsepnya di radio show tvone awal 2012 lalu, saya langsung teringat blog istri saya. Kenapa tak diterbitkan di nulis buku? 


Awalnya, istri saya sempat tak pede. Dia bilang, apa menariknya perjalanan secuil dijadikan buku? Cuma ke Singapura dan Malaysia lagi! Tapi saya tetap ngotot. Saya katakan, poinnya bukan itu. Karena, walaupun pergi ke Singapura atau Malaysia itu “pasaran”, saya yakin, banyak orang yang memimpikannya. Karena, tak semua orang punya kesempatan ke sana (saya salah satunya, hehe). 

Bagi saya, yang bolak balik ke sana pun belum tentu bisa menuliskannya. Karena, sekali lagi, bukan soal ke Singapura atau Malaysia itu hal yang biasa, buku ini ada. Buku ini lebih ke preview dan review pergi sederhana ke luar negeri. Bukan sekadar hura-hura. 

Buku ini adalah bagaimana si penulis yang mantan pacar saya ini :p, bukan berangkat tiba-tiba. Tapi diawali mimpi. Ya, mimpi! Si penulis mewujudkan mimpinya secara sederhana. Lalu bertahap. Di bab pertama, berjudul Liburan ke Mana Ya, Jeni menulis,”Asal tau sodara-sodara. Si ibu ini (jeni herself) berprinsip: asal bisa ke luar negeri udah bersyukur sangatt. Gak perlu deh banyak-banyak bawa sangu. Hehehe. Yang penting bisa tetep foto-fotoan, buat kenang-kenangan anak cucu kelak,” (halaman 6-7, ditulis Sabtu 9 Oktober 2010). Bagi saya, itu adalah nawaitu yang sederhana. Tidak berlebihan. Tidak nekat. Hanya keinginan ringan saja. 

Bagaimana mewujudkannya? Jeni sadar, kami berdua berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Orang tua telah naik haji saja, kami sudah alhamdulillah. Pendapatan kami di tiga tahun pertama perkawinan, jelas belum cukup untuk berfoya-foya, apalagi ke luar negeri. Lalu? 

Jeni merealisasikannya lagi-lagi dengan simple. Dia banyak membaca referensi. Dia tak lelah belajar, dan berkomunikasi. Membaca buku-buku traveling. Terutama mengoleksi dan membaca buku-buku miss jinjing, Amelia Masniari. Memanfaatkan media sosial semaksimal mungkin. Melahap semua info soal traveling di televisi. Serta (ini yang penting), banyak bertanya. Baik ke teman-temannya yang sudah pengalaman ke luar negeri, atau berbagi di blog. 

Selebihnya adalah soal persiapan. Yang lagi-lagi tak sekejap. Bagaimana Jeni harus membeli tiket promo Air Asia Denpasar-Singapura dan Kuala Lumpur-Denpasar, 6 bulan sebelum berangkat. Itu pun belum punya paspor! Semua karena untuk menyiasati bajet yang sebenarnya minim. Simak juga bagaimana Jeni mengurus paspor seorang diri. Tanpa calo. Tentu saja untuk penghematan (lagi). Semua diurus jauh-jauh hari dengan perhitungan cermat. 

Khusus tulisan My Passport di bab IV (halaman 16) pembaca juga bisa menimba banyak ilmu. Karena, cara kepengurusan dan syarat-syarat membuat paspor di keimigrasian Denpasar, Bali, lengkap dengan suasananya ditulis di sana. Bahkan hingga harga map Rp 10 ribu. Di buku ini, Jeni juga berbagi bagaimana cara mencari penginapan dan transportasi murah (tapi nggak murahan) dan hemat di Singapura dan Malaysia. Termasuk urusan transportasi dan konsumsi agar tetap sesuai kantong. 

Sisanya adalah cerita umum dan foto-foto selama di sana. Dengan bumbu Jeni berangkat seorang diri ke sana. Dari rencana berempat, hingga akhirnya tanpa teman. Kemudian tambahan tulisan kecil tentang pergi hemat (lagi, hehe) ala backpekeran kami ke Gili Trawangan di NTB, pada akhir 2011 lalu. Plus catatan kecil Jeni di blog seputar traveling lainnya. Untuk menambah suasana blog, seluruh komentar teman-teman Jeni dimasukkan. Di sana terlihat interaksi Jeni dan teman-temannya sesama blogger. 

Dan yang mengejutkan (ini yang paling saya suka), tulisan My Passport mendapat komentar terbanyak (sekitar 13 komentar+jawaban Jeni). Sebab, tak hanya teman-teman sesama blogger yang mengomentarinya. Beberapa orang yang ingin bertanya soal kepengurusan paspor di imigrasi Denpasar ternyata juga masuk. Ini bisa jadi karena mereka searching di google.

So, secara keseluruhan, buat saya, buku ini bukan soal pamer bepergian ke Singapura dan Malaysia. Saya lebih suka menyebutkan simple journey to share. Dengan spirit Man Jadda Wa Jadda yang dipopulerkan penulis Ahmad Fuadi yang terkenal dengan novelnya Negeri 5 Menara. 

Ada cerita, seorang teman memprotes saya, ketika Jeni mempublish cover buku ini di facebook. Teman itu bilang,”Ah, aku tak tertarik dengan Singapura dan Malaysia. Indonesia lebih indah. Masih banyak destinasi dan tempat menarik untuk dibukukan,” katanya dalam pesan ke BBM saya. 

Terima kasih sangat untuk teman itu atas kritik dan protesnya. Hehe. Siap. Itu kritik bagus dan saya setuju. Tapi saya menjelaskan, bahwa itu bukan poin buku ini. Seperti penjelasan resume soal buku ini, Jeni mengatakan,” Aku tahu, banyak orang yang punya pengalaman melebihi aku. Bagi yang pernah atau sering ke Singapura atau Malaysia, semoga menjadi pengenang. Bagi yang belum dan bercita-cita ke sana, semoga menjadi inspirasi dan penyemangat. Karena aku percaya, kemauan dan semangat besar adalah modal kuat mewujudkan mimpi dan cita...,” 
Semoga buku ini bermanfaat. Terima kasih. 
 



Denpasar, 23 Maret 2013 

Oleh: Rosihan Anwar (@rosihan_anwar)
-----Sehari-hari editor di Jawa Pos Radar Bali---

Senin, Juni 04, 2012



Siapa Mau Negen Bebek?
Minggu pagi, 19 September 2010.  Ruang Kerta Gosana, Pusat Pemerintahan Badung, Mangupura. Hari itu, kepengurusan Pengda (Pengprov) PSSI Bali periode 2009-2013 dilantik. Untuk kali ketiga, tokoh sepak bola asal Kuta, Made Sumer dikukuhkan sebagai nakhoda PSSI Bali. Pelantikan dilakukan langsung Ketua Umum PSSI saat itu, Nurdin Halid. Made Sumer sendiri saat itu kondisi kesehatannya sedang naik turun.
Sumer mengaku “terpaksa” bersedia dipilih lagi. Meski ia merasa ingin ada pengganti. Kesibukannya bertambah setelah menjadi Ketua DPRD Badung. Faktor lain, adalah masalah kesehatannya. Serta sulitnya mencari sosok yang siap memimpin sepak bola Bali.
“Saat Musda 2009 di Hotel Bali Summer (Kuta), tidak ada calon ketua yang mau datang. Saya sempat telepon Pak (Ketut) Suardana (tokoh sepak bola Ubud). Beliau jawab, siapa yang mau jadi Ketua PSSI pak?,” tutur Sumer saat memberikan sambutan saat pelantikan.  Cerita itu disambut tawa peserta pelantikan.
Sumer pun melanjutkan sambutannya. “Menjadi ketua PSSI itu sangat berat. Istilah orang Bali “care anak negen bebek” (seperti orang memikul bebek). Yang didapat hanya bunyi-bunyi dan maaf, tahi-tahi nya saja..,” imbuhnya, dengan lagi-lagi disambut geeerrr hadirin, termasuk Ketua Umum PSSI Nurdin Halid.
Cerita Sumer soal memikul bebek itu tak salah. Apalagi, beberapa bulan kemudian sang tokoh gila bola itu kemudian berpulang. Sumer meninggal pada Senin sore, 2 Mei 2011 di RS Husada Utama, Surabaya. Almarhum berpulang setelah tiga minggu mengalami stroke. Sumer tiba-tiba masuk rumah sakit, sepulang mengikuti kongres PSSI yang kacau balau di Hotel Premier, Pekanbaru, Riau, pada Sabtu, 26 Maret 2011. Hingga kini belum ada figur yang terang-terangan bersedia menggantikan posisi Sumer.
PSSI Bali sejauh ini masih dipimpin secara kolegeal oleh tiga wakil ketua. Masing-masing IGG Putra Wirasana (Wakil Ketua I), Gede Wardana (Wakil Ketua II), dan Ketut Suardana (Wakil Ketua III).  Ketiganya belum ada pernyataan bersedia menggantikan Sumer. Terlepas dari konflik PSSI dan KPSI saat ini, mencari tokoh yang bersedia memimpin PSSI memang tidak gampang.
Beberapa nama yang sempat mencuat terang-terangan menolaknya. Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara harus menggelar jumpa pers untuk menyatakan tak bersedia memimpin PSSI Bali. Alasannya, Ketua PSSI Denpasar itu ingin fokus mengurus sepak bola Denpasar. Wabup Badung, Ketut Sudikerta yang ketua PBVSI Bali (Voli) juga tak bersedia. Lalu, Ketua Umum KONI Kota Denpasar, Putu Ngurah Ardika juga mundur dari bursa. 
Terakhir, nama tokoh bola asal Gianyar, Cok Budi Suryawan (CBS) juga mengemuka seminggu terakhir. Anggota DPRD Bali itu dicalonkan oleh Pengkab PSSI Gianyar. Hasilnya? CBS tegas menyatakan menolak (Sportmania Radar Bali edisi Jumat, 1 Juni 2012). Mantan Bupati Gianyar itu mengaku bukan orang yang tepat. Dia berharap, PSSI Bali bisa menemukan tokoh yang punya waktu mengurus sepak bola Bali.
Kini, nasib sepak bola Bali sedang dipertaruhkan. Pasalnya, PSSI Pusat telah men-deadline agar PSSI Bali segera memiliki Ketua Umum pengganti Sumer. Batas waktunya adalah 13 Juni 2012 nanti (dua minggu lagi). Tugas itu diserahkan kepada wakil ketua III PSSI Bali Gede Wardana. Mantan Wabup Buleleng itu telah ditunjuk sebagai Caretaker oleh PSSI Pusat pimpinan Djohar Arifin.
Tugasnya cukup berat. Pasalnya, jika gagal menggelar Musprovlub, maka PSSI Bali terancam dibekukan. Sama seperti PSSI Jatim yang tak diakui PSSI Pusat.  Jika itu terjadi, maka sepak bola Bali akan tak diakui nasional. Klub-klub dan ribuan talenta muda bola Bali tak akan lagi bisa terlibat di arena nasional. Serta akibat-akibat lainnya. Harus diakui, deadline 13 Juni itu berbau politis. Karena FIFA telah memberi batas waktu 15 Juni nanti. Yakni menunggu PSSI-KPSI melakukan rekonsiliasi. Buat saya, biarlah itu urusan elite PSSI di Pusat.
Yang jelas, tulisan ini bukan soal PSSI v KPSI. Bukan pula tentang IPL v ISL. Tapi, soal masa depan sepak bola Bali. Soal siapa yang berani memimpin PSSI Bali. Tentang siapa yang bersedia negen bebek? (*)

  


Patih Nambi, Ubung, Senin 4 Juni 2012













Selasa, Mei 29, 2012



Rinduku Talango…

          Tadi pagi (29/5/2012) Wang (bapak saya) telepon.  Ada rencana kami sekeluarga akan kundangan ke Madura. Ada saudara sepupu saya yang mau nikah, abis lebaran nanti. Wih..Sudah berapa tahun ya, saya nggak ke tanah leluhur?  Hehehe. Bapak Saya memang berdarah Madura. Kakeknya (buyut saya) orang asli Talango. Sebuah pulau di seberang Pelabuhan Kalianget, Sumenep, Madura. 
          Seingat saya, terakhir ke Talango itu sekitar 2001. Waktu itu masih kuliah di Surabaya. Acaranya kundangan khitanan sepupu juga. Setelah itu, hingga menikah (2008), saya tak pernah lagi ke sana. Banyak yang berubah mungkin. Salah satu yang pasti, sekarang sudah ada Jembatan Suramadu. Pada 2001, saya masih naik kapal feri dari Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya menuju Pelabuhan Kamal di Bangkalan. 
          Baiklah. Saya sudah ancang-ancang mau ambil cuti. Istri juga sudah oke. Mudah-mudahan lancar, dan saya bisa berangkat ke sana. Sebenarnya, keluarga di Madura sudah banyak yang tinggal dan menetap di Denpasar. Tapi, setiap ada hajatan keluarga besar (seperti pernikahan), biasanya digelar di Talango. Sekalian acara kumpul keluarga. Buat saya, sekalian memperkenalkan keluarga jauh saya kepada istri..

Salam hangat.. Patih Nambi, Denpasar, 29 Mei 2012…@rosihan_anwar

Senin, April 23, 2012

"Sentimentil Day" on World Book Day


Hari ini agak sentimentil. Libur di rumah mertua di Sanggulan :). Horee.  Mau nulis apa ya di Hari Buku dan Hak Cipta Se-Dunia (Unesco) ini? Banyak kejadian menarik akhir pekan lalu. Pak Wamen ESDM yang namanya susah itu berpulang. Prof Widjajono Partowidagdo meninggal. Guru besar ITB tersebut tak tertolong nyawanya saat mendaki Gunung Tambora, di Sumbawa, NTB, Sabtu (20/4/12). Saya mendengar Wamen gondrong itu berpulang saat di kantor, Sabtu sore. Kebetulan sore itu Saya ada meeting dengan adik-adik Mading SMAN 1 Denpasar (SJC) di Kantor. Rencananya mereka mau ngisi YouthShare (halaman anak muda di Radar Bali), untuk edisi 30 April.
Ya, sudahlah. Waktu berjalan. Tapi, bagi Saya, setiap ada tokoh atau orang penting meninggal, Saya selalu mengenang dua sosok. Dialah juara dunia tiga kali Formula 1, idola Saya Ayrton Senna, yang meninggal pada 1 Mei 1994. Satu lagi, kakek (datuuk) tercinta Saya, almarhum Buhari, yang meninggal 15 Mei 2008 lalu.
Saat Senna meninggal, Saya teringat satu tulisan menarik. Yakni sebuah note yang dikirim seorang fans, saat pembalap Brazil itu akan dimakamkan. Tulisannya: Kematian pasti tiba. Hanya Kita tak pernah tahu. Sekarang atau 50 tahun lagi...Oke deh semoga  kita diberi kekuatan untuk menjalankan hidup ini. Amin.

Sanggulan, Tabanan, 23 April 2012...@rosihan_anwar... 

Rabu, Maret 28, 2012



Siman, Kesalahan yang Terulang

HANYA keledai bodoh yang jatuh di lubang yang sama. Demikian kata pepatah. Ya, dunia olahraga Bali kembali berduka atas kesalahan yang terulang. Perenang nasional kelahiran Bali, Gede Siman Sudartawa kini sudah resmi milik Riau. Kenyataan itu mungkin tak sedahsyat empat tahun lalu. Ketika jelang PON XVIII/2008 di Kaltim ada tiga kasus besar soal mutasi atlet Bali. Mulai Ayu Fani Damayanti (tenis lapangan), Bambang Saputra (biliar) maupun  Lydia Ivana Jaya (golf). Namun, tetap saja, kepergian Siman adalah pukulan telak. Terutama bagi KONI Bali dan seluruh insan olahraga Provinsi ini.
Saya memahami. Ada kompleksitas dalam kasus Siman. Pada satu sisi, KONI Bali ingin menegakkan aturan mutasi atlet. Di sisi lain, KONI Bali sedang berjuang di atas awan! Ya KONI Bali sedang bertarung sesungguhnya dengan Riau, sang host PON XVIII/2012. Kebetulan yang diambil Riau adalah Siman. Dan kebetulan pula Riau pesaing berat Bali pada PON Kaltim 2008 lalu. 

Pada perolehan medali akhir PON Kaltim, Bali berada di posisi ke-9, dengan 16 emas, 18 perak dan 26 perunggu. Sedangkan Riau tepat satu strip di bawahnya (posisi ke- 10) dengan 16 emas, 14 perak dan 23 perunggu.  Ya, Bali hanya unggul 4 perak dan 3 perunggu atas Riau!

So, bisa dibayangkan apa jadinya jika kemudian Riau dibela Siman di PON nanti. Pemuda kelahiran Klungkung 8 September 1994 itu adalah anak emas renang nasional saat ini. Pada SEA Games 2011 lalu, perenang spesialis gaya punggung itu meraih total 4 emas, dengan tiga rekor baru SEA Games. Satu hal yang pasti, Riau akan melesat jauh dari posisinya pada PON Kaltim lalu. Celakanya, jika itu terjadi, maka target mempertahankan posisi 9 besar kontingen Bali di PON mendatang bisa berantakan. 

Meratapi kepergian Siman mungkin agak cengeng. Tapi, saya yakin ini tak kan terjadi jika KONI Bali sigap sejak awal. Saya tahu, pengurus KONI Bali terdiri dari pembina-pembina olahraga terbaik di Pulau Dewata ini. Dan mereka yang berkecimpung di dunia renang Bali tahu siapa Siman sejak di usia dini. Terutama pengurus PRSI Bali maupun di Perkumpulan. Mereka tahu, berapa catatan waktu Siman. Apa saja prestasinya sejak di kejuaraan antar kelompok umur. Berapa medali emas yang direbut Siman di Porsenijar dan seterusnya.

Jadi, jika potensi besar Siman itu akhirnya dinikmati daerah lain, kerugian besar pastilah ada di Bali? Hanya pertanyaannya, apakah KONI dan PRSI Bali sudah merasa membina Siman? Apakah Siman bisa se-sukses sekarang jika tetap di bawah pembinaan KONI atau PRSI Bali? Sayang, waktu tak bisa diulang.

Kali ini, saya ingin kembali menyemangati jajaran pengurus KONI Bali dari kasus Siman ini. Cukup lah sengketa Siman ini yang menjadi yang terakhir. Sangat disayangkan, energi untuk persiapan PON Riau terbagi untuk kasus Siman. Jangan sampai KONI Bali, terutama para pengurus olahraga Provinsi ini lengah lagi. Jangan lagi menyia-nyiakan potensi besar bibit-bibit olahragawan Bali. Karena, hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama! (*)



Denpasar, 28 Maret 2012..

Rabu, Oktober 12, 2011



ilustrasi: kaskus


Libur..oh Capeknya...
Libur, enggak, libur, enggak. Aduh capeknya pekan ini ;).  Sebenarnya libur reguler Saya tiap hari Senin. Tapi pekan ini agak komplikated dwueh. Yesi, redpel Radar Bali gelar nikahan (lagi) di Lampung hingga akhir pekan kemarin. Pak Rai Warsa, Pimred, sama big boss pak Justin berangkat ke Eropa, Minggu (9/10). Ada pertemuan Surat Kabar Dunia di Wina, Austria. Kabarnya sampai tanggal 24 Oktober ini.
 Sebenarnya kantor fine-fine aja. Karena redaktur sudah cukup. Yesi, Senin (10/10) itu juga sudah datang dari Lampung. Itu saya pastikan setelah BBM mas Pipit, Korlip Radar Bali, sorenya. Dia bilang “Sampeyan libur aja, Yesi masuk hari ini,” katanya via BBM. Yup Saya bilang, asyik... Komposisi jadi pas. Yesi garap halaman utama, mas Pit halaman Kota, mas Ali halaman daerah, Gupta ekonomi, dan mas Rid halaman hiburan-sport (gantiin saya). Klop! Saya pun leha-leha (dari pagi sih) :3.   
“Bencana” datang petang harinya. Tiba-tiba HP Saya berdering pas jam 19.30 (jam start ngedit). Yesi bilang Saya harus masuk! Alamak! Kenapa? Ternyata anak mas Pit, si Bagas, mendadak sakit sore itu. Yah..padahal pas BBM mas pit oke-oke aja..hadeh,,. Ternyata dia panik, dan nggak sempat ngabari Saya. Baiklah..jiwa sembrani Saya tak bisa menolaknya. Meluncur lah saya ke kantor dengan “hati libur”.
Jatah libur Saya pun berpindah jadi Rabu. Karena hari Selasa sudah jadi miliknya mas Ridwan. Pekan pun menjadi bertambah muram, karena Selasa (11/11) malam timnas kalah 2-3 dari Qatar dalam lanjutan Pra Piala Dunia 2014. Nonton bareng di kantor sambil kerja. Sambil ngedit Saya sempat-sempatin memaki kekalahan itu. Ya sudahlah, nasib sepak bola kita seperti sudah suratan untuk kalah melulu. Yang pasti, Saya sudah dapat kepastian, Rabu (12/10) ini LIBUR! Tapi, nasib jurnalis siapa tahu. Bagi jurnalis, libur itu tak wajib. Menikmati dan terlatih untuk tidak libur sebuah keharusan. Dan yang jelas,  harus tetap on call setiap saat. Siapa tahu libur batal (lagi :((()!  (*)

Senin, September 06, 2010

PAK DE WINASA; TRUTH AND DARE


cover: Imdb.com



     SEKITAR sebulan lalu, saya menonton DVD film semi dokumenter ratu pop dunia, Madonna. Judulnya, Madonna; Truth or Dare (Jujur atau Berani). Di film karya sutradara Alex Keshishian, itu diangkat sisi sebenarnya diva pop era 80-an, yang masih eksis hingga kini tersebut. Semua adalah kisah nyata hidupnya di atas dan di luar panggung.
     Mulai bermacam aksi beraninya di panggung konser (sebagian besar erotis). Lalu hubungan Madonna dengan keluarganya yang sebenarnya religius. Aktivitas dengan para penari lelakinya (kebanyakan gay). Hingga bagaimana dia menghadapi fans, sorotan media, termasuk polisi (konser turnya sering digerebek keamanan).
     Kisah-kisah dari kamar hotel tempatnya menginap dalam tur panjang juga ditampilkan. Termasuk cerita pergaulannya di kalangan jetset dan artis Hollywood. Semua dimuat gamblang, lewat rekaman video berdurasi pendek yang terangkai. Semuanya asli dan apa adanya.
Dari sana, rasa penasaran saya tentang siapa sebenarnya Madonna, sedikit terjawab. Karena, dari yang selama ini (sedikit) saya tahu soal pelantun Like A Virgin itu, ternyata tak seluruhnya benar. Ada yang benar ada yang salah. Namun, bukan soal erotisme hidup Madonna yang penting buat saya dari film itu.
     Di akhir film, ditampilkan cuplikan Madonna menjawab pertanyaan seorang wartawan. Sang wartawan bertanya, apakah aksi (berani) nya selama ini jujur atau berani (truth or dear)? Madonna tegas memilih kata truth (jujur) saat menjawab. Dia mengaku hanya ingin jujur. Jujur (meski banyak yang menentang) dalam mereflesikan diri dan seni (musik), yang dipersembahkan untuk penggemarnya di seluruh dunia.
     Pada ending film (sesaat setelah Madonna menjawab pertanyaan wartawan), sang sutradara menuliskan kalimat yang bagi saya bermakna dalam; the ultimate dare are to tell the truth. Terjemahannya, kurang lebih berarti; keberanian terbesar (seseorang) adalah mengatakan yang sebenarnya (jujur).
     Saya bukan bermaksud ingin menyamakan Madonna dengan Pak De (nama akrab Bupati Jembrana, Prof Dr drg I Gede Winasa) lewat judul tulisan ini di atas, dengan mengganti kata or menjadi and. Lagi pula, apa hubungannya? (he..he..). Kecuali mungkin soal sisi kontroversialnya. Lagi pula, saya merasa, apa salahnya? Toh, tak ada yang menyangkal, jika konon Presiden pertama kita, Ir Soekarno, pernah punya hubungan spesial dengan bintang Hollywood era 50-an, mendiang Marlyn Monroe. Sekali lagi, ini juga tidak ada hubungannya.
     Lewat tulisan ini, Saya juga bukan bermaksud akan menilai, apakah Winasa sukses atau gagal selama (dua periode) berkuasa di Bumi Makepung. Soal penilaian itu relatif. Bagi Saya, ada yang lebih penting daripada menimbang plus-minus seorang Winasa. Yakni bagaimana masyarakat Jembrana menatap masa depan yang lebih baik setelah Pilkada nanti.
     Saya juga bukan akan memprediksi bagaimana nasib Winasa setelah (jika) lengser nanti. Bukan pula soal bagaimana nasib proyek-proyek prestisiusnya. Serta bagaimana kelanjutan sejumlah kasus hukum yang diduga melibatkan suami mantan Bupati Banyuwangi, Ratna Ani Lestari itu. Biarlah waktu yang akan bicara soal itu.
     Lagipula, terlalu dini mengatakan Winasa akan benar-benar lengser, setelah 15 November 2010 (akhir masa jabatannya) nanti. Dia masih berpeluang mengikuti jejak Wali Kota Surabaya, Bambang DH. Orang nomor satu pada dua periode terakhir di Kota Pahlawan itu, kembali naik, meski dengan turun jabatan sebagai Wakil Wali Kota.
     Itu jika Winasa benar-benar sukses menjadi pemenang Pilkada Jembrana nanti sebagai Wakil Bupati (Wabup). Bukankah dia sudah bertekad menggandeng anak lelaki tertuanya, Ngurah Gede Patriana Krisna (Ipat) yang diplot menjadi Calon Bupati (Cabup). Sebuah langkah kontroversial yang mendapat dukungan, sekaligus penolakan dan kecaman dari sana-sini.
     Bagi saya, (sejauh ini) keputusan itu adalah puncak kontroversi seorang Winasa. Sejak pelantikan pertamanya yang heboh (diwarnai tertembaknya seorang demonstran) pada tahun 2000 lalu, aneka koleksi rekor MURI nya, hingga pencalonan dirinya sebagai Cagub berpasangan dengan IGB Alit Putra (Cawagub) pada Pilkada Bali 2008 lalu. Plus berbagai kebijakan berani dan sosok flamboyannya selama menjadi Jembrana 1. Semua memang jadi buah bibir.
Boleh saja Winasa beralasan, keputusan (jadi Cawabup) itu adalah sebuah panggilan nurani. Bahwa dia ingin melanjutkan aneka programnya, yang dalam dua kali jabatan banyak agenda belum kesampaian. Bahwa Bang Win (panggilan Winasa oleh masyarakat Pesisir Jembrana yang mayoritas muslim), masih ingin mengabdi atas nama rakyat Jembrana. Bahwa Winasa ingin bla..bla…bla... Itu sah-sah saja, semua tak salah.
     Kalau mau jujur (harus diakui), Winasa adalah Bupati Jembrana yang paling kesohor selama memimpin Bumi Jegog. Sejak menggantikan Ida Bagus Indugosa sepuluh tahun lalu, multi gebrakan dia geber. Puluhan proyek dan program mercusuar digagasnya. Dari rencana pembangunan bandara udara di kawasan padang rumput Awen, hingga pendirian Jimbarwana TV yang kini entah bagaimana nasibnya.
     Yang paling “merakyat” adalah program serba gratis (pendidikan dan kesehatan), serta birokrasi satu pintu di kompleks pemerintahannya yang megah, di Civic Center Pecangakan (Negara). Bagi yang ingin mencari surat keterangan miskin, jangan harap ada di Jembrana. Di sana sudah diklaim tak ada rakyat miskin. Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) produk Gubernur Made Mangku Pastika di sana tak berlaku (satu-satunya di Bali), karena sudah ada Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ), yang terakhir kabarnya seret anggaran. Di Jembrana pula, satu-satunya kabupaten di Nusantara yang menggunakan touch screen untuk pemilihan Kepala Desa atau Kepala Dusun.
     Soal olahraga, tak ada yang meragukan Winasa yang menjabat Ketua Umum KONI Jembrana. Hanya Jembrana yang berani menjadi tuan rumah Porda Bali (kini Porprov) dua kali. Pertama pada 2005 dan 2011 mendatang. Bandingkan dengan Kabupaten terkaya di Bali, yakni Badung yang harus meminta jeda empat tahun, untuk berani menggelar Porprov 2009 lalu. Banyak masyarakat Jembrana yang menikmati program-program Winasa tersebut, dengan tak sedikit daerah lain yang geleng-geleng kepala dibuatnya.
     Okelah, paling tidak banyak yang mengakui semua itu. Lihat saja koleksi MURI untuk Jembrana dan Winasa. Lihat pula penuhnya Hotel Jimbarwana yang berdiri di atas lahan Rumah Jabatan Bupati Jembrana, di setiap pekan. Dari hotel seberang Gedung Mendopo Kesari, Negara itu, puluhan pejabat asal daerah lain memulai aktivitasnya (kadang ngantri) untuk sekadar studi banding di Jembrana. Dan berbagai prestasi Jembrana lewat tangan dingin Winasa lainnya, yang layak dicap sensasional.
     Melihat itu, kalau mau jujur lagi, rasanya sangat langka Bupati seperti Winasa di Negeri ini. Apalagi kalau dibandingkan dengan Bupati/Wali Kota lain di Bali. Sekali lagi, saya bukan menilai, tapi itulah faktanya.
Jadi buat saya, apa yang telah dilakukan Winasa selama ini sudah luar biasa. Bahkan (mungkin), melebihi ekspektasi dari pemimpin sekelas Bupati manapun (terutama di Bali). Tapi, jika pun Winasa menyatakan masih belum puas, bagi saya semua tak harus dilimpahkan kepada beliau seorang diri. Saya percaya, masyarakat Jembrana sudah dewasa. Banyak generasi di ujung barat Pulau Bali yang saya kira mampu melanjutkannya. Bukankah Pak De punya motto; Kalau mau pasti bisa?
     Yang pasti, Pak De tak perlu sampai membuat film semi dokumenter seperti Madonna. Saya kira masyarakat Jembrana tak memiliki memori pendek untuk melupakan Pak De begitu saja. Yang penting, Pak De dengan semua jerih payahnya (memang) telah mengabdi tulus dan didasari niat baik. Yakni untuk membangun Jembrana dan masyarakatnya agar lebih maju. Saya pun yakin rakyat Jembrana akan tetap menghormati segala pengabdiannya. Minimal, patung kepala Winasa di Paviliun (VIP) RSU Negara atau Twin Tower megah di seberang Civic Center Pecangakan adalah bukti, betapa monumentalnya seorang Pak De.
     Namun, saya percaya, akan lebih terhormat rasanya, jika Pak De (dengan ikhlas) mewariskan segala kebaikan itu kepada orang (tokoh) lain. Terutama yang dipercaya dan dianggap layak oleh masyarakat Jembrana lewat Pilkada nanti. Harapannya, yang baik dilanjutkan, dan yang kurang selama kepemimpinan Winasa bisa disempurnakan. Karena bagaimanapun, hukum alamnya adalah: nobody’s perfect (tak ada manusia yang sempurna).
     Tak elok rasanya, jika Pak De tetap memaksakan kembali ke “istananya” (di Pecangakan), yang saban tahun diramaikan deru motor road race. Bagi saya, itu sama saja dengan memotong regenerasi kepemimpinan di Jembrana. Sebuah kondisi yang tak sehat untuk demokrasi pada era reformasi ini. Sangat indah rasanya, jika Winasa legowo lengser dengan menyaksikan penggantinya lebih baik, minimal menyamai sejumlah prestasinya.
     Harapan saya, Pak De Winasa bisa mencontoh mantan Presiden Afrika Selatan (Afsel), Nelson Mandela. Tokoh pejuang kaum kulit hitam Afsel itu, begitu cantik melakukan regenerasi kepemimpinan, pasca tumbangnya rezim apartheid pada awal 1990-an. Nama Mandela pun tetap harum dan dihormati hingga kini. Bukankah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono baru-baru ini menolak wacana perubahan batas jabatan Presiden yang dua periode?
     Saya merasa perlu menuliskan ini. Karena Kita semua tahu, terakhir Bupati Winasa menginginkan Pilkada Jembrana digelar sebulan sebelum masa jabatannya berakhir (15 November) nanti. Sudah dua kali Winasa menggugat KPUD Jembrana yang akan menggelar Pilkada pada bulan Desember 2010 mendatang. Untuk yang satu ini, jujur, saya sangat-sangat miris (walaupun tak punya tendensi apa-apa dan tak punya hak pilih di Pilkada Jembrana nanti).
     Tapi, bagaimana pun dan apa pun itu, memang tak ada yang melarang, jika Pak De Winasa benar-benar akan comeback pada Pilkada Jembrana nanti. Toh, Pak De punya reputasi mentereng (dengan segala kekurangannya) selama memimpin Jembrana. Namun, sekali lagi, saya ingin kembali mengambil terjemahan kalimat dari ending film Madonna di atas; keberanian terbesar (seseorang) adalah mengatakan yang sebenarnya (jujur).
     Jadi (dengan segepok pengakuan itu), kalau memang Pak De tetap (berani) memaksakan diri ikut tarung dalam Pilkada Jembrana nanti, saya mau bertanya, dan saya berharap, jawabannya jujur dan berani (truth and dare).
     ”Sebenarnya, apalagi yang Pak De cari?,”(*)
Foto: detik.com